DISKOMINFOSTANDI – Dampak kemarau panjang mulai dirasakan warga Kecamatan Long Apari, Kabupaten Mahakam Ulu. Camat Long Apari, Petrus Ngo, SP, menyampaikan kondisi krisis ketersediaan bahan pangan pokok dan bahan bakar minyak (BBM) di wilayahnya akibat terhambatnya jalur distribusi.

“Yang jelas, sembako di Long Apari saat ini agak kurang atau bahkan langka. Kalau pun ada, harganya sudah mahal karena imbas kemarau yang mengganggu distribusi,” ungkap Camat Long Apari saat diwawancarai, Selasa (30/07/2025).

Distribusi sembako dan BBM ke Long Apari saat ini sangat tergantung pada jalur sungai. Akses darat dinilai belum layak karena kondisi jalan yang belum memadai. Barang-barang kebutuhan pokok diangkut menggunakan kendaraan ke Long Pahangai atau Long Lunuk, kemudian dilanjutkan dengan perahu ketinting atau ces ke Long Apari.

Akibat jalur distribusi yang sulit, harga kebutuhan pokok melonjak drastis. Di ibukota Kecamatan Long Apari, harga beras telah mencapai Rp1.000.000 per 25 kilogram. Sementara itu, di kampung-kampung seperti Noha Silat dan Noha Tivab, harga beras bahkan tembus hingga Rp1.200.000 per 25 kilogram.

“Kadang masyarakat harus turun sendiri untuk membeli ke Long Pahangai atau Long Lunuk. Biayanya tentu mahal,” tambahnya

Kondisi ini diperparah oleh kelangkaan BBM. Harga eceran mencapai Rp25.000 hingga Rp30.000 per liter, naik dua kali lipat dari harga normal. Meski harga di APMS tetap mengacu pada harga subsidi, namun stok BBM sangat terbatas dan sulit diangkut karena gangguan pengiriman. Hal ini memicu antrean panjang dan rebutan masyarakat demi mendapatkan BBM.

Ketiadaan BBM berdampak langsung pada aktivitas ekonomi masyarakat. Warga tidak dapat pergi ke ladang, berkebun, menjala ikan, atau mendulang emas. Selain itu, kebutuhan BBM untuk listrik juga mengalami kendala pasokan, yang menyebabkan listrik tidak menyala maksimal.

“Kantor-kantor pemerintahan, sekolah, dan pelayanan publik terganggu. Ini bisa membuat aktivitas masyarakat lumpuh total,” jelas Camat

Hingga saat ini, bantuan pangan dari pemerintah pusat seperti beras dari Bulog yang dikoordinir Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) belum sepenuhnya tiba. Jumlahnya pun masih terbatas dan hanya ditujukan bagi warga dengan kategori sangat tidak mampu, seperti lansia, janda, dan mereka yang tidak dapat bekerja.

Petrus Ngo berharap selain bantuan bahan pangan dari pemerintah, Pertamina juga bisa membantu penyaluran BBM ke Long Apari untuk menekan gejolak harga dan menjaga ketahanan masyarakat di tengah kemarau panjang.

“Yang kami butuhkan bukan hanya bahan pokok seperti beras, gula, susu, bawang merah dan putih, tapi juga BBM. Karena tanpa BBM, ekonomi kami bisa lumpuh,” pungkasnya (JO/AI)

Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *