DISKOMINFOSTANDI – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) Kabupaten Mahakam Ulu menegaskan krusialnya penguatan pendampingan keluarga secara berkelanjutan. Langkah ini dinilai menjadi kunci utama dalam memutus rantai dan mencegah stunting sejak dini di wilayah Mahulu.
Penegasan tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan P2KB Mahulu, dr Petronela Tugan MKes. Ia memberikan pengarahan saat menutup rangkaian Revitalisasi Kader Pendamping Keluarga (KPK) Kabupaten Mahakam Ulu Tahun 2026 di Bumi Perkemahan (Buper) Pramuka “Tanaa Mekaam Jaya”, Kampung Long Melaham, Kecamatan Long Bagun, Jumat (14/8).
Petronela mengapresiasi tinggi antusiasme seluruh peserta. Menurutnya, beragam kegiatan kebersamaan dan gim interaktif selama acara bukan sekadar hiburan semata. Agenda tersebut dirancang untuk menguji pengetahuan, membangun kekompakan, memicu semangat tim, serta mempertegas peran vital kader dalam mengawal keluarga bebas stunting.
Ia menggarisbawahi bahwa kondisi stunting tidak terjadi secara instan, melainkan sebuah proses panjang yang wajib dicegah jauh sebelum kehamilan. Intervensi harus bergulir sejak tahap calon pengantin, masa persiapan dan proses kehamilan, hingga balita menginjak usia 59 bulan. Kader pun diminta aktif merangkul ketua RT serta pemerintah kampung agar pemetaan ibu hamil dan keluarga berisiko stunting terdata presisi.
“Ketika kita tahu ada yang menikah, itu sudah menjadi tugas kita untuk mendampingi,” tegas dr Petronela.
Dirinya berpesan agar para kader menghindari sikap menghakimi terhadap keluarga yang mengalami masalah kehamilan atau ketidaksiapan pernikahan. Fokus utama kader harus tertuju pada keselamatan ibu dan bayi, serta menjamin mereka mendapatkan akses pendampingan kesehatan yang layak.
Petronela menambahkan, pengawalan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) adalah harga mati karena asupan gizi wajib diperhatikan sejak awal pembuahan. Usai bayi lahir, pemantauan tumbuh kembang harus rutin digencarkan melalui posyandu lewat penimbangan dan pengukuran fisik. Kesadaran para orang tua untuk aktif membawa buah hatinya ke posyandu pun terus dipacu.
Di sisi lain, potensi pekarangan rumah diimbau untuk dimaksimalkan sebagai lumbung pangan gizi mandiri. Pemanfaatan polybag, kebun gizi, peternakan ayam bertelur, hingga budidaya ikan lele dan nila bisa disinergikan dengan gerakan Dasawisma serta program pembangunan kampung setempat.
Ia memaparkan analogi bahwa anak yang sudah terlanjur stunting ibarat telah jatuh ke dasar lubang, sehingga pemulihannya memakan effort luar biasa besar. Sedangkan anak yang berisiko stunting diibaratkan masih berjalan di bibir lubang, yang jauh lebih mudah untuk diselamatkan. Oleh sebab itu, fungsi pencegahan dan intervensi dini wajib menjadi prioritas utama.
Mengakhiri arahannya, Petronela memecut semangat para kader untuk mempererat jaringan kolaborasi dan kepedulian sekembalinya mereka ke kampung halaman. Pembangunan sektor kesehatan dan akselerasi penurunan stunting adalah kerja bersama. Seluruh pembekalan selama revitalisasi diharapkan langsung diaplikasikan demi mencetak generasi Mahakam Ulu yang sehat dan berkualitas.(AD/Jo/AI)

Foto :AD

Tidak ada Komentar